The Magician's Nephew - Part 1 (BAB 1 - 3)


KEPONAKAN PENYIHIR

Novel by C.S. Lewis
Ilustrasi oleh Paul Baynes
Narnia of Indonesia

-----

DAFTAR  ISI
1.    Pintu   yang  Salah
2.    Digory  dan  Pamannya                                               
3.    Hutan  di  Antara  Dunia-Dunia                                  
4.    Bel  dan  Palu                                                               
5.    Kata  Kemalangan                                                        
6.   Awal  Segala  Kesusahan Paman  Andrew                                                          
7.    Yang  Terjadi  di  Pintu  Depan                                  
8.   Pertarungan  di  Lampu   Tiang                                  
9.   Membangkitkan   Narnia                                             
10.     Lelucon  Pertama   dan   Hal-hal  Lain                      
11.     Digory   dan   Pamannya Sama-sama  dalam  Kesulitan                                    
12.     Petualangan  Strawberry                                            
13.     Pertemuan   Tak   Terduga                                         
14.    Penanaman  Pohon                                                     
15.    Akhir   Kisah   Ini dan  Awal   Kisah-kisah   Lain                                    

-----

Untuk Keluarga Kilmer
-----

BAB 1
Pintu yang salah

   Ini  kisah   tentang   sesuatu   yang   terjadi   dulu sekali   ketika   kakek-nenekmu   masih   kanak-kanak.   Kisah  ini  penting  karena  mengungkap-kan  bagaimana  pertama  kali  dimulainya  berba-gai  hal  bisa  keluar-masuk  dari  dunia  kita  sendiri ke  tanah  Narnia.

Di masa-masa itu, Mr Sherlock Holmes ma-sih tinggal di Baker Street dan keluarga Bastable masih mencari harta terpendam di Lewinsham Road. Di masa-masa itu, kalau kau anak laki-laki kau harus mengenakan kerah Eton yang kaku setiap hari, dan sekolah-sekolah biasanya lebih kejam daripada sekarang. Tapi makanan-makanannya lebih lezat, dan kalau bicara soal permen-permennya, aku tidak akan bilang pada-mu betapa murah dan nikmat semua jenisnya, karena itu hanya akan membuat air liurmu

menetes percuma. Dan di masa-masa itu, hidup-lah di London anak perempuan bernama Polly Plummer.

Dia tinggal di salah satu rumah di deretan panjang rumah yang berdempetan. Di suatu pagi, dia sedang berada di kebun belakang

ketika
seorang   anak   laki-laki
datang
berlari
dari   kebun   sebelah   dan  meletakkan  kepalanya

di atas pagar tembok. Polly sangatlah terkejut karena hingga saat ini belum pernah ada anak-anak di rumah itu, hanya Mr Ketterly dan Miss Ketterley, kakak-beradik, perjaka tua dan perawan tua, tinggal bersama. Jadi Polly men-dongak, penuh rasa ingin tahu. Wajah anak laki-laki asing itu sangat kotor. Nyaris tidak akan bisa lebih kotor lagi bila dia menggosok-kan tangan ke tanah dulu, menangis keras, lalu mengeringkan wajah dengan kedua tangan-nya. Bahkan sebenarnya, bisa dibilang itulah yang baru saja dia lakukan.

"Halo,"  sapa  Polly.

"Halo," sapa anak laki-laki itu. "Siapa nama-mu?"

"Polly," jawab Polly. "Kalau namamu?" "Digory," jawab si anak laki-laki. "Wah, namamu aneh sekali!" kata Polly.

"Lebih aneh mana dengan Polly?"  kata Digory.


 "Namamu lebih aneh," kata Polly. "Tidak," kata Digory.

"Yang pasti aku akan mencuci wajahku," kata Polly. "Itu perlu kaulakukan, terutama setelah—" lalu dia berhenti. Dia berniat berkata

"Setelah
kau
menangis
lama,"
tapi
dia
pikir
itu
tidak
sopan.






"Baiklah,
aku
akan
mencuci
muka,"
kata
Digory dengan suara yang jauh lebih keras, seperti anak lelaki yang saking sedihnya tidak peduli siapa saja yang tahu dia habis menangis. "Tapi kau juga akan begini," dia melanjutkan, "kalau sepanjang umurmu kau hidup di pe-desaan dan memiliki kuda poni, juga sungai di bagian bawah taman, lalu dibawa untuk hidup di gua kumuh mengerikan seperti ini."

"London bukan gua," kata Polly yakin. Tapi anak lelaki itu terlalu marah untuk mendengar-nya, dia pun melanjutkan—

"Dan kalau ayahmu berada jauh di India— dan kau harus tinggal bersama Bibi dan Paman yang gila (siapa yang bakal mau?)—dan kalau alasannya adalah karena mereka harus menjaga ibumu—dan jika ibumu sakit dan akan— akan—meninggal." Kemudian wajahnya mulai membentuk rupa aneh yang biasa muncul bila kau berusaha menahan air mata.

"Aku tidak tahu itu. Maaf ya," kata Polly lembut. Kemudian, karena dia hampir tidak tahu apa yang harus diucapkan dan berusaha mengalihkan pikiran Diggory ke topik-topik menggembirakan, dia bertanya:

"Memangnya Mr Ketterly benar-benar gila, ya?"

"Yah,  kalau  tidak  gila,"  kata  Digory,  "pastinya dia menyimpan misteri lain. Dia punya ruang kerja di lantai atas dan Bibi Letty bilang jangan sekali-kali aku berani ke sana. Nah, itu saja sudah terdengar mencurigakan, kan? Kemu-dian ada satu hal lagi. Setiap kali pamanku berusaha mengatakan apa pun padaku saat makan—dia bahkan tidak pernah berusaha bi-cara pada Bibi—Bibi Letty langsung menyuruh-nya diam. Dia bilang, 'Tidak perlu mencemas-kan anak itu, Andrew' atau 'Aku yakin Digory tidak mau mendengar tentang itu' atau kalau tidak 'Nah, Digory, tidakkah kau ingin main keluar di taman?"'

"Biasanya pamanmu berusaha bicara tentang apa?"

"Aku tidak tahu. Dia tidak pernah bisa bicara banyak. Tapi ada lagi yang lebih mem-buat penasaran. Suatu malam—bahkan sebenar-nya, kemarin malam—waktu aku melewati tangga terbawah menuju loteng, saat mau pergi tidur (dan biasanya aku tidak pernah terlalu peduli saat melewatinya), aku yakin aku men-dengar teriakan."

"Mungkin dia menyekap istrinya yang gila di atas sana."

"Ya, aku sudah memikirkan kemungkinan itu."
"Atau mungkin dia sebenarnya pembuat uang palsu."

"Atau dia mungkin dulunya bajak laut, seper-ti pria yang ada di bagian awal buku Treasure Island, yang selalu bersembunyi dari teman-teman sekapalnya."

"Seru sekali!" kata Polly. "Aku tidak pernah menyangka rumahmu begitu menarik."

"Kau mungkin berpendapat rumah itu mena-rik," kata Digory. "Tapi kau tidak bakal me-nyukainya kalau harus tidur di sana. Apakah kau masih akan menyukainya kalau harus se-lalu terbaring dalam keadaan terjaga men-dengarkan langkah kaki Paman Andrew yang mengendap-endap sepanjang koridor menuju rumahmu? Matanya juga mengerikan sekali."

Begitulah ceritanya bagaimana Polly dan Digory bisa saling mengenal. Dan karena saat itu masih permulaan liburan musim panas dan tidak satu pun dari mereka yang pergi ke laut tahun itu, mereka bertemu nyaris setiap hari.
Sebagian besar alasan dimulainya petualangan mereka adalah karena saat itu musim panas yang paling sering hujan dan dingin yang per-nah ada sejak bertahun-tahun. Keadaan ini membuat mereka harus berpuas diri dengan kegiatan-kegiatan di dalam rumah, bisa dibilang, petualangan di dalam rumah. Menakjub-kan sekali betapa banyaknya petualangan yang

bisa
kaulakukan
dengan
sebongkah
lilin
di
suatu
rumah
besar,
atau
di
deretan
rumah.

Polly telah lama menemukan bahwa jika kau membuka pintu kecil tertentu di loteng yang berbentuk kotak di rumahnya, kita akan me-nemukan tempat penyimpanan air dan ruang gelap di belakangnya yang bisa kaumasuki dengan sedikit memanjat hati-hati. Ruang gelap itu seperti terowongan panjang dengan dinding bata di satu sisi dan atap curam di sisi lainnya. Di atap, berkas-berkas kecil cahaya menembus di antara rongga-rongganya. Tidak ada lantai di terowongan ini, kita bakal harus melangkah dari kasau ke kasau, dan di antaranya hanya ada plester. Kalau kita menginjak plester ini kau akan mendapati dirimu terjatuh dari langit-langit ruangan di bawahnya. Polly mengguna-kan sebagian kecil terowongan itu, tepat di sebelah tempat penyimpanan air, sebagai gua penyelundup. Dia membawa bagian-bagian peti pakaian tua, beberapa bantalan kursi dapur yang rusak, dan benda-benda sejenis lainnya, lalu menyebar semua benda itu di atas kasau demi kasau sehingga terbentuk semacam lantai. Di sinilah dia menyimpan kotak uang yang

berisi berbagai harta, dan cerita yang sedang ditulisnya, lalu biasanya beberapa apel. Dia sering kali diam-diam meminum bir jahe di sana, botol-botol lamanya membuat tempat itu lebih kelihatan seperti gua penyelundup.
Digory     lumayan    menyukai    gua    itu     (Polly tidak    mengizinkannya   melihat   cerita    yang   ditulisnya)    tapi    anak   lelaki   itu    lebih   suka   bertualang."Polly,"    kata    Digory.    "Sepanjang   apa   terowongan     ini    sebenarnya?    Maksudku,     apakah terowongan   ini   berakhir   di   ujung   rumahmu?" "Tidak,"   kata   Polly.   "Dinding-dindingnya   tidak   berakhir   hingga   atap   rumah   ini   saja.   Tapi

terus memanjang. Aku tidak tahu hingga sejauh apa."

"Kalau begitu kita bisa menjelajah sejauh panjangnya deretan rumah ini."

"Sepertinya begitu," kata Polly. "Dan oh, astaga!"

"Apa?"

"Kita bisa masuk ke rumah-rumah lain." "Ya, dan dianggap perampok! Tidak, terima
kasih."

"Jangan sok tahu, dengar dulu. Yang ku-maksud itu rumah di sebelah rumahmu."

"Ada  apa  di  rumah  itu?"

"Rumah itu kosong. Daddy bilang rumah itu selalu kosong sejak kami pindah kemari."

"Berarti kurasa kita harus mencoba melihat-nya," kata Digory. Kalau kau mendengarnya berbicara, kau tidak akan menduga sebenarnya dia jauh lebih bersemangat daripada itu. Karena tentu saja dia sedang memikirkan, seperti yang juga akan kaulakukan, semua alasan kenapa rumah itu kosong begitu lama. Begitu juga Polly. Tidak satu pun di antara mereka yang mengucapkan kata "berhantu". Dan keduanya merasa bahwa sekali suatu ide tercetus, akan jadi tindakan pengecut bila tidak melakukan-nya.

"Jadi kita coba pergi ke sana sekarang?" tanya Digory.
"Baiklah,"  jawab  Polly.

"Tidak usah kalau kau tidak ingin," kata Digory.

"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly. "Bagaimana caranya kita bisa tahu kita su-
dah ada tepat di rumah sebelah rumahku?" Mereka memutuskan harus keluar dari ruang

kotak dan berjalan menyeberanginya dengan berjalan sebanyak langkah yang dibutuhkan untuk berpindah dari satu kasau ke kasau lain. Tindakan ini akan bisa memberikan me-reka perkiraan ada berapa kasau yang harus dilewati untuk melewati satu ruangan. Kemu-dian mereka akan melebihkan kira-kira empat kasau untuk memperkirakan lorong di antara dua loteng di rumah Polly, kemudian jumlah yang sama dengan ruang kotak untuk kamar tidur pelayan perempuan. Perhitungan ini akan membantu mereka mengira-ngira panjang ru-mah. Kalau mereka sudah melalui jarak itu

sejauh
dua
kalinya,
mereka
akan
berada
di
ujung
rumah
Digory.
Pintu
mana
pun
yang
mereka temui setelah itu akan membawa me-reka ke loteng rumah kosong tersebut.

"Tapi kurasa loteng itu tidak akan benar-benar kosong," kata Digory.
"Memangnya menurutmu bakal ada apa di sana?"

"Menurutku bakal ada seseorang tinggal se-cara diam-diam di sana, hanya keluar-masuk di malam hari, dengan lentera temaram. Kita mungkin akan menemukan geng penjahat yang putus asa dan mendapatkan hadiah untuk pe-nangkapan mereka. Bisa dibilang mustahil se-buah rumah kosong selama bertahun-tahun se-perti itu tanpa ada misteri di baliknya."

"Menurut Daddy pasti pipa-pipanya yang tidak beres," kata Polly.

"Huh! Orang dewasa selalu memikirkan pen-jelasan-penjelasan yang tidak menarik," kata Digory. Karena mereka sekarang sedang ber-bicara di loteng dengan cahaya matahari siang dan bukannya dengan sinar lilin di Gua Penye-lundup, semakin tidak tampak adanya kemung-kinan rumah kosong itu ada hantunya.

Ketika selesai mengukur loteng, mereka harus mengambil pensil dan melakukan penjumlahan. Awalnya mereka berdua mendapatkan hasil yang berbeda, dan bahkan ketika akhirnya mereka sependapat, aku masih belum yakin perhitungan mereka benar. Mereka begitu ter-buru-buru ingin segera memulai petualangan.

"Kita  tidak  boleh   bersuara,"   kata  Polly  ketika mereka memanjat lagi ke belakang tempat penyimpanan air. Karena ini peristiwa penting, mereka masing-masing membawa lilin (Polly punya banyak persediaan lilin di guanya).

Keadaan begitu gelap, berdebu, dan lembap saat mereka melangkah dari kasau ke kasau tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kecuali ketika mereka saling berbisik, "Kita sudah ada di seberang lotengmu sekarang," atau "Kita pasti sudah setengah jalan melewati rumah kami". Keduartya tidak pernah tersandung dan lilin-lilin mereka tidak pernah padam, lalu akhirnya mereka mencapai suatu tempat mereka bisa melihat pintu kecil di dinding batu bata di sebelah kanan mereka. Tidak ada gembok atau kenop di sisi yang bagian sini tentu saja, karena pintu itu dibuat untuk masuk dan bukan keluar, tapi ada semacam pegangan (se-

perti   yang   biasa   ditemukan   di   pintu   lemari)

yang  mereka  yakin  bakal  bisa  diputar.

"Aku  buka?"  tanya  Digory.

"Aku mau kalau kau juga mau," kata Polly, seperti ucapannya sebelumnya. Keduanya me-rasa situasi mulai jadi serius, tapi tidak satu pun dari mereka yang mau mundur. Dengan agak susah payah, Digory menekan dan me-mutar pegangan itu. Pintu terayun terbuka dan sinar matahari siang yang mendadak meng-hambur keluar membuat mata mereka me-ngejap-ngejap. Lalu, bersama dengan rasa sa-ngat terkejut, mereka mendapati mereka sedang melihat, bukan loteng terlantar, tapi ruangan berperabot lengkap. Namun ruangan itu seperti-nya memang tak berpenghuni.

Sepi  sekali  didalamnya.  Rasa  ingin tahu Polly menguasainya. Dia  meniup  lilinnya  hingga  padam  dan  masuk ke  ruangan asing itu,  nyaris tanpa  suara.
Ruangan itu berbentuk, tentu saja, seperti loteng,   tapi   dilengkapi   perabotan   ala   ruang duduk. Setiap sisi dinding ditutupi rak-rak dan setiap sudut dalam rak itu dipenuhi buku. Api menyala   di  perapian   (kau   pasti  ingat  bahwa musim  panas  tahun  itu  begitu  basah  dan  di- ngin)   dan   di   depan   perapian,   membelakangi Digory dan Polly, ada kursi berlengan yang berpunggung tinggi.  Di  antara  kursi  dan  Polly, mengisi sebagian besar ruangan,  ada  meja  besar yang dipenuhi berbagai benda—buku-buku ce- takan  dan  jenis  buku-buku  yang  bisa  kautulisi, juga   beberapa   botol   tinta,   pena,   lilin   segel, dan mikroskop. Tapi yang langsung menarik perhatian  Polly  adalah  baki  kayu  merah  yang di   atasnya  tergeletak  beberapa  cincin.   Cincin itu masing-masing berpasangan—yang kuning berpasangan dengan yang hijau,  lalu ada sedikit jarak,   kemudian   cincin   kuning   lagi   dengan cincin  hijau  lain.  Cincin-cincin  itu  tidak  lebih besar  daripada  cincin-cincin   biasa,   dan  tidak ada   yang   bisa   mengalihkan   perhatian   dari benda-benda itu karena mereka bersinar terang sekali.  Benda-benda  itu  benda  kecil  bercahaya

terindah yang bisa kaubayangkan. Kalau Polly lebih   muda   usianya   daripada   saat   itu,   dia pasti   bakal   ingin  memasukkan  salah   satunya ke  mulut.
Ruangan  itu  begitu  sepi  sehingga  kau  lang- sung  bisa  mendengar  bunyi  detakan  jam.  Na- mun,   seperti  yang  kini  Polly  sadari,  ruangan itu juga tidak benar-benar sepi. Ada suara berdengung yang samar—amat sangat samar. Kalau  mesin  penyedot  debu  sudah  ditemukan saat itu, Polly pasti akan berpikir itu suara penyedot debu yang sedang digunakan jauh sekali—terpisah darinya beberapa ruangan di beberapa  lantai  di  bawahnya.  Tapi  dengungan itu lebih menyenangkan daripada suara mesin, lebih  bernada:  hanya saja  begitu samar sehingga kau  nyaris  tidak  bisa  mendengarnya.
"Tidak  apa-apa—tidak  ada   orang  di   sini," kata  Polly  ke  balik  bahunya  ke  Digory.  Seka- rang   dia   bicara   sedikit   lebih   keras   daripada bisikan.  Lalu Digory keluar, matanya mengejap- ngejap,   dan  tubuhnya  tampak  kotor   sekali— pasti  Polly juga  begitu.
"Ini   bukan   pertanda   bagus,"   kata   Digory. "Ini  sama  sekali  bukan  rumah  kosong.  Sebaik- nya  kita  cepat  pergi   sebelum  ada  orang   da- tang."

"Menurutmu   cincin-cincin   apa   itu?"    kata Polly sambil menunjuk cincin-cincin berwarna tadi.
"Aduh, ayolah,"  ajak  Digory.  "Semakin cepat kita—"
Dia  tidak  pernah  menyelesaikan kata-katanya karena   tepat   pada   saat   itu   sesuatu   terjadi. Kursi   berpunggung  tinggi   di   depan   perapian tiba-tiba  bergerak dan  berdiri dari  bangkunya— seperti  iblis pantomim keluar  dari  pintu  bawah panggung—sosok mengejutkan Paman Andrew. Ternyata mereka tidak berada di rumah kosong, mereka  berada  di  rumah  Digory  dan  di  ruang kerja yang terlarang dimasuki! Kedua anak itu berucap   "O-o-oh"   dan   menyadari   kekeliruan besar mereka.  Mereka merasa  seharusnya  sudah tahu  mereka  belum pergi cukup  jauh.
Paman Andrew bertubuh tinggi dan sangat kurus.  Wajahnya  bersih bercukur dengan hidung bengkok tajam, matanya luar biasa tajam, dan rambutnya  beruban  lebat juga  berantakan.
Digory tak mampu  berkata-kata,  karena  kini Paman Andrew tampak seribu kali lebih me- ngerikan daripada sebelumnya.  Polly belum me• rasa  setakut itu,  tapi tak  lama lagi pasti  begitu. Karena tindakan pertama yang Paman Andrew lakukan  adalah  berjalan  menuju  pintu  ruangan,

menutupnya, dan menguncinya. Lalu dia ber- balik, menatap lekat kedua anak itu dengan matanya yang tajam,  dan tersenyum,  menunjuk- kan  seluruh giginya.
"Nah! "   katanya.   "Sekarang  kakakku   yang bodoh  tidak  akan  bisa  membantumu!"
Tindakan   itu   sama   sekali   bukan   tindakan yang   kita   harapkan   bakal   dilakukan   orang dewasa. Jantung Polly rasanya mau melompat keluar,   dia   dan   Digory   pun   mulai   berjalan mundur  ke  pintu  kecil  yang  mereka  lalui  tadi. Tapi Paman Andrew terlalu cepat dibanding mereka.  Tahu-tahu  dia  sudah  berada  di  bela- kang   mereka,   menutup   pintu   itu   juga,   lalu berdiri menghalanginya. Kemudian dia meng- gosok-gosokkan kedua  tangannya  dan  membuat buku-buku  jemari  tangannya  berderak.  Jemari- nya  sangat panjang,  putih,  dan  bagus.
"Aku senang sekali kalian datang," katanya. "Tepat saat  aku  membutuhkan  dua  anak."
"Saya mohon, Mr Ketterly,"  kata Polly.  "Saat ini  sudah  hampir waktunya  makan  malam  dan saya  harus  segera pulang.  Maukah Anda  mem- biarkan kami  keluar?"
"Belum,"  jawab Paman Andrew.  "Ini  kesem- patan   yang   terlalu   bagus   untuk   dilewatkan. Aku   memang   menginginkan   dua   anak.   Jadi

begini,  aku  sedang melakukan suatu  percobaan besar.   Aku   sudah  mengetesnya  pada   hamster dan   tampakny a    berhasil.    Tapi   masalahnya hamster   tidak   bisa   memberitahumu   apa-apa. Dan kau tidak bisa menjelaskan cara kembali kepadanya."
"Begini, Paman Andrew,"  kata Digory,  "seka- rang benar-benar saatnya makan malam dan mereka akan segera mencari kami. Kau harus membiarkan  kami  keluar."
"Harus? "  tanya  Paman Andrew.
Digory dan Polly bertukar pandang sekilas. Mereka tidak berani mengatakan apa-apa, tapi pandangan  itu  berarti  "Ini  mengerikan  sekali" dan  "Kita  harus  membujuknya."
"Kalau Anda membiarkan kami  keluar  untuk makan   malam   sekarang,"   kata   Polly,   "kami bisa  kembali lagi ke sini setelahnya."
"Ah,  tapi  bagaimana  aku  bisa  yakin  kalian akan melakukan itu?" tanya Paman Andrew dengan senyum licik.  Lalu tampaknya dia  beru- bah  pikiran.
"Yah, yah," katanya, "kalau kalian memang harus  pergi,   kurasa  kalian  harus  pergi.   Aku tidak  bisa  mengharapkan  dua  anak  muda  se- perti kalian bakal tertarik berbincang-bincang dengan  orang  tua  sepertiku."  Dia  mengembuskan   napas   dan   melanjutkan.    "Kalian   sama sekali tidak akan bisa membayangkan betapa terkadang  aku  sangat kesepian.  Tapi  tidak  ma- salah.  Pergilah  makan  malam.  Tapi  aku  mem- beri  kalian  hadiah  sebelum kalian pergi.  Tidak setiap   hari   aku   bisa   melihat   gadis   kecil   di ruang kerjaku yang membosankan ini,  terutama, kalau  aku  boleh  berterus  terang,  wanita  muda yang  sangat  cantik  sepertimu."
Polly   mulai   berpikir   bahwa   mungkin   pria ini  tidaklah  segila  bayangannya.
"Apakah  kau  mau  cincin,  sayangku?"  tanya
Paman Andrew ke Polly.
"Apakah maksudmu salah  satu  cincin kuning atau   hijau  itu?"   tanya   Polly.   "Kau   baik   se• kali!"
"Bukan yang hijau," kata Paman Andrew. "Sayangnya  aku  tidak  bisa  memberimu  cincin yang  hijau.  Tapi  aku  akan  senang  sekali  bila bisa memberimu salah satu cincin kuning itu, bersama rasa cintaku.  Ayo, cobalah  salah satu- nya."
Kini Polly sudah cukup menguasai rasa takutnya  dan  yakin  pria  tua  ini  tidaklah  gila, lagi pula pastinya memang ada sesuatu yang anehnya menarik pada cincin-cincin bersinar terang  itu.  Dia  bergerak  mendekati baki.

"Wah!  Astaga,"  katanya.  "Suara  dengungan itu terdengar lebih keras  di  sini.  Hampir seolah cincin-cincin inilah  yang  mengeluarkannya."
"Khayalanmu indah sekali, Sayang," kata Paman Andrew sambil tertawa. Suara tawanya terdengar seperti tawa yang sangat biasa, tapi Digory sempat melihat ekspresi bersemangat, hampir  serakah,  di  wajahnya.
"Polly! Jangan ceroboh!" Digory berteriak. "Jangan  sentuh cincin-cincin itu."
Terlambat.  Tepat  saat  Digory  berbicara,  ta- ngan Polly terulur untuk menyentuh salah satu cincin  itu.   Dan  mendadak,  tanpa  kilatan  ca- haya, suara, atau peringatan apa pun, Polly menghilang.  Hanya  tinggal  Digory  dan  paman- nya  di  ruangan itu.

-----

BAB 2
Diggory dan Pamannya


    KEJADIAN  itu   begitu  tiba-tiba  dan  men- cekam, tidak  seperti  apa  pun yang pernah dialami   Digory,   bahkan   dalam  mimpi   buruk sekalipun,  sehingga dia  menjerit.  Tangan Paman Andrew langsung membekap mulutnya.  "Henti- kan  itu!"   desisnya  di  telinga  Digory.   "Kalau kau   terus   membuat   keributan,   ibumu   akan mendengarnya.  Dan  kau  tahu  sendiri  apa  yang

bisa  terjadi  bila  dia  terlalu terkejut."
Seperti yang Digory ceritakan nanti, jenis kemarahan mengerikan yang ingin dilampias- kannya  ke  pria  itu  hampir membuatnya  muak. Tapi tentu  saja  dia  tidak  menjerit lagi.
"Begitu lebih baik," kata Paman Andrew. "Mungkin kau juga tidak bisa mencegahnya. Memang  mengejutkan   bila   kau   melihat   sese- orang  lenyap  untuk  pertama  kalinya.  Aku  saja

shock   waktu   hamsterku   menghilang   kemarin malam."
"Apakah  itu  yang  terjadi waktu  kau  menjerit tempo  lalu?"  tanya  Digory.
"Oh ,  kau  mendengar  itu,  ya?  Kuharap  kau tidak  sedang  memata-mataiku?"
"Tidak, tentu tidak," jawab Digory penuh gengsi.  "Tapi  apa  yang terjadi pada  Polly?"
"Beri aku selamat, keponakanku tersayang," kata  Paman Andrew,  menggosok kedua  tangan- nya.   "Percobaanku  telah  berhasil.  Gadis  kecil itu  lenyap—menghilang—keluar dari  dunia  ini."
"Apa  yang  telah  kaulakukan padanya?" "Mengirimnya  ke—yah—ke  tempat  lain." "Apa  maksudmu?"  tanya  Digory.
Paman Andrew duduk  dan menjawab,  "Baik-
lah,  aku  akan  menceritakan  semuanya  kepada- mu.   Kau   sudah  pernah  dengar  kisah  tentang Mrs  Lefay yang tua? "
"Bukankah dia bibi buyutku atau semacam- nya?"  tanya Digory.
"Bukan   juga,"   kata   Paman   Andrew.   "Dia ibu angkatku. Itu dia,  di  sana,  di dinding."
Digory   mendongak   dan   melihat   foto   yang sudah  buram:   wajah  wanita  tua   mengcnakan topi   bonnet  yang  berpita   di   bagian   dagunya. Dan  dia  kini  bisa  mengingat  bahwa  dia  dulu

juga  pernah  melihat  foto  wajah  yang  sama  di laci   tua   di   rumah ,   di   desanya.   Dia   telah bertanya kepada ibunya siapa wanita itu dan ibunya tampak tidak terlalu berminat mem- bicarakan topik  itu  lebih  lanjut  lagi.  Wajahnya sama  sekali  tidak  menyenangkan, pikir  Digory, tapi   tentu   saja   dengan   foto-foto   zaman   itu kita  tidak  akan  pernah  bisa  benar-benar  tahu.
"Apakah  ada—pernah ada—sesuatu yang  sa- lah padanya,  Paman Andrew?"  tanyanya.
"Yah,"  kata  Paman  Andrew sambil terkekeh, "tergantung  dengan  apa  yang  kausebut sebagai salah.   Orang-orang   begitu   berpikiran   sempit. Dia memang sangat unik di masa hidupnya. Melakukan berbagai tindakan tidak bijaksana. Itulah  sebabnya  mereka  membungkamnya."
"Di rumah  sakit jiwa,  maksudmu?"
"O h   bukan,   bukan,   bukan,"   kata   Paman Andrew,   nada   suaranya   terkejut.   "Bukan   di tempat yang seperti itu. Maksudku hanya pen- jara."
"Astaga!" kata Digory. "Apa yang telah dilakukannya?"
"Ah,  wanita  malang,"  kata  Paman  Andrew, "dia  telah  bertindak tidak  bijaksana.  Sebaiknya kita   tidak   membahas   semua   itu.   Dia   selalu bersikap  baik  padaku. "

"Tapi  tunggu  dulu,  apa  hubungannya  semua ini dengan Polly? Kenapa kau tidak langsung saja—"
"Semua  ada  waktunya, anakku,"  kata  Paman Andrew.    "Mereka   membiarka n   Mr s    Lefay keluar  sebelum  dia  meninggal  dan  aku  salah satu dari sedikit orang yang dia izinkan me- nemuinya   di   hari-hari   terakhir   sakitnya.   Dia begitu membenci orang-orang biasa yang tidak pedulian, kau harus tahu itu. Aku sendiri juga begitu.  Aku  dan  dia  memiliki ketertarikan pada hal-hal  yang  sama.  Hanya  beberapa  hari  sebe• lum  kematiannya, dia  menyuruhku menghampiri meja   rias   tua   di   rumahnya,   membuka   laci rahasia,   lalu   membawakan   kepadanya   kotak kecil yang kutemukan di dalamnya. Saat aku mengangkat  kotak  itu  aku  bisa  menduga  dari rasa kesemutan di jemari tanganku bahwa aku sedang  memegang  rahasia  besar  di  tanganku. Dia memberikan kotak itu kepadaku dan me- maksaku berjanji bahwa segera setelah dia meninggal aku  akan membakarnya, tetap dalam keadaan  tak  pernah  terbuka  dan  dengan  upa- cara  tertentu.  Aku  tidak  menepati  janji  itu."
"Yah, kalau begitu, kau jahat sekali," ko- mentar  Digory.
"Jahat?"  kata  Paman  Andrew  dengan  wajah

bertanya-tanya.  "Oh ,  aku mengerti. Maksudmu, anak-anak  lelaki  harus  menepati  janji.  Itu  sa- ngat benar: yang paling tepat dan pantas di- lakukan,  aku  yakin,  dan  aku  lega  kau  sudah diajar  untuk   bersikap  begitu.  Tapi  tentu  saja kau  harus  memahami  bahwa  peraturan  seperti itu, betapa pun bagusnya untuk anak-anak lelaki—pelayan—wanita—bahkan manusia pada umumnya, tidak bisa diharapkan berlaku pada siswa-siswa luar biasa, para pemikir dan ahli pengetahuan  hebat.   Tidak,  Digory.   Para   pria seperti aku, yang memiliki kebijakan tersem- bunyi, terbebaskan dari peraturan biasa seperti begitu juga kami terlepaskan dari kesenangan- kesenangan biasa. Takdir kami,  anakku,  adalah takdir yang tinggi  dan  sepi."
Saat  mengatakan  ini  dia  mengembuskan  na- pas dan tampak begitu muram, mulia, juga misterius sehingga sesaat Digory benar-benar berpikir Paman Andrew sedang mengucapkan sesuatu yang sangat menakjubkan. Tapi kemu- dian dia teringat ekspresi  buruk yang dilihatnya di  wajah  sang  paman  beberapa  saat  sebelum Polly  menghilang.  Dia  pun  langsung  bisa  me- lihat   apa   yang   ada   di   balik   kata-kata   luar biasa  Paman Andrew.  Semua itu  hanya  berarti, katanya   pada   dirinya   sendiri,   bahwa   Paman

Andrew   pikir   dia   bisa   melakukan   apa   saja untuk  mendapatkan  apa  pun  yang  diinginkan- nya.
"Tentu   saja,"   kata   Paman   Andrew,   "aku tidak berani membuka kotak itu lama sekali, karena  aku  tahu  bisa  saja  isinya  sesuatu  yang sangat  berbahaya.  Karena  ibu  angkatku wanita yang  amat  menakjubkan.  Sebenarnya,  dia  satu dari manusia-manusia terakhir yang memiliki darah  peri   dalam  tubuhnya.   (Dia   bilang  ada dua   orang   lain   di   masanya.   Salah   satunya seorang  bangsawan  bergelar  duchess  dan  satu lagi wanita tukang bersih-bersih.) Bahkan, Digory,  saat  ini  kau  sedang  berbicara  dengan pria terakhir (mungkin) yang benar-benar me• miliki   ibu   angkat   peri.   Nah !   Itu   akan   jadi sesuatu yang  bakal  kauingat  ketika  kau  sendiri sudah  menjadi  pria  tua."
Aku   berani   bertaruh   dia   peri   yang   jahat, pikir  Digory,  lalu  menambahkan dengan  keras, "Tapi  bagaimana  dengan  Polly?"
"Kenapa kau terus-terusan meributkan ma- salah  itu?"  kata  Paman  Andrew.  "Seolah  ma- salah itulah yang paling penting! Tugas per- tamaku   adalah   tentu   saja   mempelajari   kotak itu  sendiri.  Kotaknya kuno  sekali.  Dan  bahkan pada  saat  itu  aku  tahu  cukup  banyak  untuk

yakin   kotak   tersebut   bukan   buatan   Yunani, Mesir kuno, Babilonia, Hittite, ataupun Cina. Usianya lebih tua daripada negara-negara itu. Ah—benar-benar hari  yang  indah  ketika  akhir- nya aku mengetahui kebenarannya. Kotak itu buatan   bangsa   Atlantis,   datangnya   dari   ke- pulauan Atlantis  yang hilang.  Itu  berarti  kotak itu jauh lebih tua  berabad-abad daripada  benda- benda  Zama n  Batu  yang  digali  di  Eropa.  Dan benda   itu   juga   tidaklah   kasar   dan   mentah seperti   barang  Zama n   Batu.   Karena   di   awal masa,  Atlantis  sudah  menjadi  kota  hebat  de- ngan istana-istana, kuil-kuil, dan orang-orang terpelajar."
Paman  Andrew  berhenti  sesaat  seolah  men- duga   Digory  akan   mengatakan  sesuatu.   Tapi anak   itu   semakin   tidak   menyukai   pamannya sejalan  dengan  setiap  menit  yang  berlalu,  jadi dia  tidak  mengucapkan  apa-apa.
"Sementara   itu,"   Paman   Andrew  melanjut- kan,   "aku   sedang   mempelajari   banyak   sihir secara  umum  dengan  berbagai  cara  (yang  ku- rasa   tidaklah   pantas   bila   dijelaskan   kepada anak kecil). Itu berarti aku mendapatkan ba- yangan yang cukup jelas tentang benda-benda macam apa  saja yang mungkin berada di  dalam kotak itu. 


kan  berbagai  kemungkinan.  Aku  harus  menge- nal  beberapa—yah,  sejumlah  orang  jahat  aneh, dan melalui berbagai pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Semua itulah yang mem- buat   rambutku   beruban.   Seseorang   tidaklah begitu  saja  menjadi penyihir.  Kesehatanku sem- pat   ambruk.   Tapi   aku   membaik.   Dan   aku akhirnya  tahu."
Meski tidak ada  kemungkinan, walau  barang sedikit pun,  ada  orang  lain yang mendengarkan pembicaraan mereka, Paman Andrew mencon- dongkan tubuh ke depan dan hampir berbisik ketika  berkata:
"Kotak Atlantis itu berisi sesuatu yang telah dibawa  dari  dunia  lain  ketika  dunia  kita  baru saja  dimulai."
"Apa? "  tanya  Digory  yang  kini  jadi  sangat tertarik,  tanpa  bisa menahan  diri.
"Hanya debu,"  jawab Paman Andrew.  "Debu

bagus   dan   kering.   Tidak   banyak   yang   bisa dilihat.   Bahkan   bisa   dibilang,   tidak   banyak yang  bisa  ditunjukkan  setelah  kerja  keras  se- umur  hidup.  Ah,  tapi  waktu  aku  melihat  debu itu   (aku   benar-benar  berhati-hati  untuk  tidak menyentuhnya)  dan  berpikir  bahwa  setiap  butir pernah  berada  di  dunia  lain—maksudku  bukan planet   lain   tentunya,   planet-planet   itu   juga bagian  dari  dunia  kita  dan  kau  bisa  mencapai- nya  kalau  kau  pergi  cukup  jauh—tapi  Dunia Lain   sungguhan—Alam   Lain—
jagat  raya  lain—suatu  tempat yang  tidak  akan  pernah  kau- capai  walaupun  kau  menjelajahi luar   angkasa   jagat   raya   ini   se- lama-lamanya—dunia yang  hanya bisa  dicapai  dengan  sihir—nah!" Saat    mengataka n    itu    Pama n Andrew   menggosok-gosokkan   ke- dua  tangannya  sampai  buku-buku jemarinya    berderak   seperti
kembang  api.

"Aku  tahu,"  dia  melan- jutkan,  "hanya  kalau  kau bisa  menemukan  bentuk  tepatnya  maka  debu itu bisa menarikmu ke tempat asalnya. Tapi kesulitannya    justru    terletak    pad a    mencari bentuk tepatnya itu. Pengalaman-pengalaman terdahuluku semua  adalah kegagalan.  Aku men- cobanya pada hamster. Beberapa di antaranya hanya mati.  Beberapa yang lain meledak seperti bom-bom  kecil—"
"Itu tindakan yang kejam sekali," kata Digory, yang dulu pernah punya kelinci.
"Kenapa kau selalu bisa mengalihkan topik pembicaraan?" kata Paman Andrew. "Itulah gunanya  makhluk-makhluk  itu.  Aku  membeli- nya sendiri.  Sekarang sebentar—sampai di mana aku  tadi?  Ah  ya.  Akhirnya  aku  berhasil  mem- buat cincin-cincin itu: cincin yang warnanya kuning.  Tapi  sekarang  kesulitan  baru  muncul. Aku cukup yakin saat ini, bahwa cincin yang kuning  bisa  mengirimkan  makhluk  mana  pun yang menyentuhnya ke Tempat Lain.  Tapi  apa- lah gunanya itu semua kalau aku tidak bisa mengembalikan mereka  untuk  bercerita  kepada- ku  apa  yang telah mereka  temukan di  sana?"
"Da n    bagaimana   nasib     mereka?"    tanya Digory. "Kekacauan yang bakal mereka temui kalau  mereka  tidak  bisa  kembali!"
"Kau terus-menerus melihat  segala sesuatunya

dengan sudut pandang yang salah,"  kata  Paman Andrew dengan ekspresi tidak sabar. "Tidak bisakah   kau   mengerti   semua   ini   pengalaman hebat? Tujuan utama mengirim siapa pun ke Tempat Lain adalah supaya aku bisa tahu bagaimana  rasanya."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak pergi saja sendiri ke  sana?"
Digory nyaris tidak pernah melihat seseorang tampak begitu terkejut dan tersinggung seperti Paman Edward sekarang hanya karena perta- nyaan sederhana itu.  "Aku? Aku?"  dia  berseru. "Anak ini pasti gila! Pria dengan usiaku, dengan keadaan kesehatan sepertiku, rela mengambil risiko kejutan dan bahaya yang mungkin muncul karena  mendadak  dilemparkan  ke  dunia  lain? Aku   tidak   pernah   mendengar   apa   pun   yang begitu  tidak masuk  di  akal  sepanjang  hidupku! Apakah kausadar dengan yang baru saja kau- katakan? Bayangkan apa arti kata Dunia Lain— kau mungkin saja  bertemu apa pun—apa pun. "
"Tapi kurasa tidak masalah bagimu untuk mengirim Polly ke sana," kata Digory. Pipinya terbakar  karena   amarah   sekarang.   "Dan  aku hanya  bisa  berkata,"  dia  melanjutkan,  "biarpun kau pamanku—kau telah bertindak pengecut, mengirim   anak   perempuan   ke   tempat   yang

terlalu   menakutkan   bagimu   untuk   pergi   sen- diri."
"Diam kau!" kata Paman Andrew, sambil memukul  meja   keras-keras.   "Aku  tidak   akan sudi  diceramahi  seperti itu  oleh  anak  sekolahan kecil   yang   kotor.   Kau   tidak   mengerti.   Aku ilmuwan   besar,   sang  penyihir,   si  pakar  yang sedang melakukan percobaan. Tentu saja aku membutuhkan seseorang untuk menjadi subjek percobaan.  Demi  jiwaku,  jangan-jangan  setelah ini kau akan berkata bahwa seharusnya aku meminta  izin  pada  hamster-hamsterku  sebelum aku menggunakan mereka! Tidak ada kebijakan besar   yang   bisa   dicapai   tanpa   pengorbanan. Tapi  gagasan seharusnya  aku pergi  sendiri  ada- lah omong kosong.  Itu  seperti meminta jenderal berperang   seperti   prajurit   biasa.   Seandainya aku terbunuh, apa jadinya kerja keras seumur hidupku?"
"Oh ,   berhentilah   membual,"   kata   Digory. "Kau  akan  membawa  Polly kembali, tidak?"
"Aku   baru   saja   akan   memberitahumu  soal itu  ketika  dengan  tidak  sopan  kau  memotong- ku,"   kata   Paman   Andrew,   "Bahwa   akhirnya aku menemukan cara untuk melakukan perja- lanan pulang. Cincin-cincin yang hijau akan menarikmu  pulang."

"Tapi   Polly   tidak   membawa   cincin   yang hijau."
"Tidak,"  kata Paman Andrew dengan senyum jahat.
"Kalau begitu dia tidak akan bisa kembali," teriak  Digory.  "Dan  itu  sama  saja  dengan  kau sudah  membunuhnya."
"Dia bisa saja kembali,"  kata Paman Andrew, "kalau  ada  orang yang menyusulnya, mengena- kan cincin kuning sambil membawa dua cincin hijau, satu untuk membawa orang itu sendiri pulang   dan   yang   satu   lagi   untuk   membawa Polly pulang."
Dan  saat  ini  tentu  saja  Digory  sudah  bisa melihat jebakan  yang  menjeratnya.  Dia  meman- dang  Paman  Andrew,  tanpa  mengatakan  apa- apa,  dengan mulut ternganga lebar.  Kedua pipi- nya  kini  pucat sekali.
"Aku berharap," kata Paman Andrew kini dengan   suara   yang   sangat   tinggi   dan   kuat, seolah dia paman sempurna yang baru saja memberi  seseorang  uang  saku  besar  dan  na- sihat  baik,  "Aku  berharap,  Digory,  kau  tidak akan   mundur  dan   menyerah.   Aku   akan   jadi sangat   menyesal   bila   ada   anggota   keluarga kita yang tidak memiliki kehormatan dan ke- beranian yang cukup  besar untuk  bersedia pergi

menyelamatkan—ngng—lady   yang   dalam   ke- susahan."
"Oh ,   diamlah!"   kata   Digory.   "Kalau   kau punya  kehormatan  dan  segala  itu,  kau  sendiri yang   akan   pergi.   Tapi   aku   tahu   kau   tidak akan   melakukan   itu.   Baiklah.   Aku   mengerti aku harus pergi. Tapi ternyata kau memang monster.  Kurasa  kau  sudah  merencanakan  se- mua ini supaya Polly pergi tanpa sepenge- tahuannya sehingga kemudian aku harus pergi menjemputnya."
"Tentu saja," kata Paman Andrew dengan senyumnya  yang  menyebalkan.
"Baiklah.  Aku  akan  pergi.  Tapi  sebelumnya ada satu hal yang harus kukatakan. Aku tidak pernah  percaya pada  sihir  hingga  hari  ini.  Aku lihat   sekarang   sihir   adalah   nyata.   Yah,   dan kalau  sihir  memang  ada,  berarti  kurasa  segala kisah  tua  tentang  peri  juga  kurang-lebih  benar. Dan  kau  tidak  lain  adalah  penyihir  licik  yang kejam  seperti  yang  ada  di  dalam  cerita-cerita. Nah ,   aku   tidak   pernah   membaca   cerita   di mana orang-orang seperti itu tidak mendapat ganjaran  di  akhir  kisah,  dan  aku  berani  ber- taruh   itulah   yang   juga   akan   kaualami.   Kau pantas  menerimanya."
Dari  segala hal yang telah  diucapkan Digory,

kata-katanya yang ini  merupakan yang pertama yang mengenai sasaran.  Paman Andrew terkejut kemudian muncul awan ketakutan menaungi wajahnya   yang,   meskipun   dia   begitu   kejam, nyaris bisa membuatmu mengasihaninya. Tapi sedetik kemudian dia mengusirnya pergi dan berkata ditemani tawa yang agak dipaksakan, "Yah,  yah,   kurasa   itu   hal   biasa   yang   bakal muncul  di  benak  seorang  anak—terutama  ka- rena  dibesarkan di  antara wanita-wanita, seperti dirimu.  Kisah-kisah  istri  tua,  hah?  Kurasa  kau tidak perlu mencemaskan bahaya yang akan mendatangiku,   Digory.   Bukankah   lebih   baik kau  mengkhawatirkan  bahaya  yang  mengham- piri teman kecilmu itu? Dia sudah pergi cukup lama.   Kalau  memang  ada   bahaya  Di  Sana— yah, akan sangat disayangkan bila kau tiba terlambat."
"Seolah kau peduli saja," kata Digory penuh amarah.   "Tapi   aku   sudah   muak   mendengar segala   bualan   ini.   Apa   yang   harus   kulaku- kan?"
"Kau  benar-benar  harus  belajar  mengendali- kan  emosimu,  anakku, "   kata  Paman  Andrew tenang.  "Kalau tidak  kau  akan tumbuh menjadi seperti Bibi Letty.  Sekarang. Kemarilah."
Paman  Andrew  bangkit,  mengenakan  sepa-

sang  sarung  tangan,  lalu  berjalan  menuju  baki tempat  cincin-cincin  itu  berada.
"Cincin-cincin ini  hanya  berfungsi,"  katanya, "kalau  mereka  benar-benar  menyentuh kulitmu. Kalau  memakai sarung tangan,  aku  bisa  meng- angkatnya—seperti ini—tanpa  ada  kejadian  apa- apa.   Kalau   kau   membawa   salah   satunya   di sakumu  juga  tidak  akan  terjadi  apa-apa,  tapi tentu  saja  kau  harus  berhati-hati  untuk  tidak memasukkan tangan ke  saku  dan  tanpa  sengaja menyentuhnya.  Di  saat  menyentuh  cincin  ku- ningmu, kau akan lenyap  dari dunia ini.  Waktu kau  berada  di  Tempat  Lain,  dugaanku—tentu saja   ini   belum   dites   kebenarannya,  tapi   aku menduga—saat  kau  menyentuh  cincin  hijau  kau akan menghilang dari  dunia  itu  dan—perkiraan- ku—muncul  kembali   di   dunia   ini.   Sekarang. Aku  akan  mengambil  dua  cincin  hijau  ini  dan memasukkan keduanya  ke  saku  sebelah  kanan- mu.  Ingatlah  dengan  sangat  hati-hati  di  mana cincin  yang  hijau  berada.  Hijau  sama  dengan Green.   Kanan   sama   dengan   Right.   G   untuk Green   dan   R   untuk   Right.   G.R.   kau   lihat: adalah   dua   huruf  pertama   kata   Green.   Satu untukmu  dan  satu  lagi  untuk  si  gadis  kecil. Dan  sekarang  kau  ambillah  sendiri  cincin  yang kuning.  Aku  akan  mengenakannya—di jariku—

kalau   aku   jadi   kau.   Kemungkinan   jatuhnya akan  lebih  kecil  bila  kaulakukan itu."
Digory hampir  saja  mengambil  cincin  kuning ketika  tiba-tiba  dia  berhenti.
"Tunggu dulu,"  katanya.  "Bagaimana  dengan Ibu? Bagaimana kalau dia menanyakan ke- beradaanku?"
"Semakin   cepat   kau   pergi,   semakin   cepat kau  akan  kembali,"  kata  Paman  Andrew ceria. "Tapi  kau   bahkan  tidak   benar-benar  yakin
aku  bisa  kembali."
Paman   Andrew   mengangkat   bahunya,   ber- jalan menyeberangi ruangan menuju pintu, membuka kunci, membukanya lebar-lebar de• ngan  entakan,  dan  berkata:
"Oh ,   baiklah   kalau   begitu.   Terserah   kau saja. Turunlah dan santap makan malammu. Biarkan si gadis kecil itu dimakan binatang- binatang  liar,   tenggelam,  kelaparan  di   Dunia Lain,   atau   tersesat   di   sana   selama-lamanya, kalau   itu   yang  kauinginkan.   Semuanya  sama saja   bagiku.   Mungkin  sebelum  waktunya  mi- num   teh   sebaiknya   kau   mampir   ke   sebelah dan  menemui  Mrs  Plummer  untuk  menjelaskan dia  tidak  akan pernah melihat anak perempuan- nya  lagi karena kau takut mengenakan sebentuk cincin."

"Ya ampun," kata Digory, "aku benar-benar berharap aku  sudah cukup  besar  untuk  meninju kepalamu!"
Lalu Digory mengancingkan mantelnya, me- narik   napas   dalam-dalam,   dan   meraih  cincin itu.   Dan   saat   itu   dia   berpikir,   seperti   yang selalu  dia  lakukan setelahnya,  bahwa  kata  hati- nya tidak akan membiarkannya mengambil pilihan  lain.

-----


BAB 3
Hutan di Antara Dunia-Dunia


Paman Andrew dan    ruang    kerjanya langsung menghilang.  Kemudian selama  se-
saat, segalanya menjadi seolah bertumpuk-tum- puk.  Hal  selanjutnya yang Digory ketahui  ada- lah adanya cahaya hijau lembut yang menyi- narinya  dari  atas  dan  kegelapan  di  bawahnya. Dia  tidak  tampak  seperti  sedang  berdiri  atau apa  pun,  atau  duduk,  atau  berbaring.  Seolah tidak  ada  yang  menyentuhnya.  "Sepertinya  aku ada   di   dalam   air,"   kata   Digory.   "Atau   di bawah air." Pemikiran ini sempat membuatnya takut, tapi hampir seketika dia bisa merasakan tubuhnya  naik  dengan  cepat.   Lalu  kepalanya tiba-tiba   keluar  di   udara   dan   dia   mendapati dirinya berenang ke tepian, menuju daratan berumput lembut  di  pinggir  suatu  mata  air. Saat   bangkit   dia   menyadari   dirinya   tidak basah   kuyup   dan   meneteskan   air.   Dia   juga tidak terengah-engah mencari  udara  seperti yang akan  diperkirakan  semua  orang  bila  habis  ber- ada   di   bawah   air.   Pakaiannya   sama   sekali kering.  Dia  sedang  berdiri  di  pinggir  mata  air kecil—tidak  lebih  dari  tiga  meter  dari  satu  sisi ke  sisi  lainnya—dalam suatu  hutan.  Pepohonan tumbuh  rapat  dan  berdaun  lebat  sehingga  dia bahkan   tidak   bisa   mengintip   langit.   Semua cahaya    berwarna    hijau    dan    menyeruak   di antara   dedaunan,   tapi   pastinya   di   atas   sana ada  matahari yang  bersinar  sangat kuat  karena


sinar   hijau   yang   dirasakannya   begitu   terang dan   hangat.   Hutan   itu   hutan   tersunyi   yang mungki n    bisa    kaubayangkan .    Tida k    ada burung-burung, tidak ada serangga, tidak ada hewan-hewan, dan  tidak  ada  angin.  Kau  nyaris bisa  merasakan  pepohonan  tumbuh.  Mat a  air tempat Digory  baru  saja  keluar  ternyata  bukan- lah  satu-satunya  mata  air  di  sana.  Ada  lusinan mata  air  lain—satu  mata  air  di  setiap  meter sejauh  matamu  bisa  memandang.  Kau  hampir bisa  merasakan pepohonan mengisap air dengan akar-akar   mereka.   Huta n   itu   sangat   hidup. Ketika   berusaha   melukiskannya   nanti   Digory selalu  berkata,  "Tempat itu  begitu  kaya,  sekaya kue  plum.'"
Hal  teranehnya, hampir  sebelum  dia  meman• dang  ke  sekeliling,  Digory  separo  lupa  bagai- mana   dia   bisa   datang   ke   sana.   Pada   suatu titik,  dia  pastinya  tidak  memikirkan  Polly,  Pa- man  Andrew,  atau  bahkan  ibunya.  Dia  sama sekali  tidak  takut,  bersemangat, atau penasaran. Kalau   ada   yang   bertanya   kepadanya,   "Dari mana asalmu?" dia mungkin bakal menjawab, "Tempat  tinggalku  dari  dulu  di  sini."   Seperti itulah  rasanya—seolah  seseorang  sudah  berada di   tempat   itu   sejak   lama   dan   tidak   pernah merasa  bosan, walaupun tidak  ada  yang pernah

terjadi   di   sana.   Seperti   yang   diceritakannya lama   setelah   itu,   "Tempat   itu   bukan   jenis tempat di mana banyak hal terjadi. Pepohonan terus  bertumbuh,  itu  saja."
Setelah lama memandangi hutan itu, Digory menyadari  ada  gadis  kecil  berbaring  telentang di   kaki   pohon   beberapa   meter   dari   dirinya. Mata  gadis  itu  nyaris  tertutup  tapi  tidak  ter- pejam,   seolah   dia   sedang   berada   di   antara keadaan tidur dan bangun. Jadi Digory me- natapnya  lama  sekali  dan  tidak  berkata  apa- apa.   Dan   akhirnya  gadis  itu  membuka  mata dan  memandangi Digory lama  sekali,  juga  tan- pa   berkata   apa-apa.   Lalu   gadis   itu   bicara, dengan  suara  yang  pelan  dan  lembut  seperti orang  mengantuk.
"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu sebelumnya,"  katanya.
"Menurutku juga  begitu,"  kata  Digory.  "Kau sudah  lama  berada  di  sini?"
"Oh ,  aku  selalu  ada  di  sini,"  kata  si  gadis. "Setidaknya—entahlah—lama  sekali."
"Aku  juga,"  ucap  Digory.
"Tidak ah," kata si gadis. "Aku baru saja melihatmu  keluar  dari  mata  air  itu."
"Ya, mungkin memang begitu," kata Digory kebingungan.  "Aku  lupa."

Kemudian  untuk  beberapa  saat  yang  cukup lama  keduanya  tidak  saling  bicara  lagi.
"Tunggu dulu," kata  si gadis tiba-tiba,  "kira- kira  kita  memang  pernah  bertemu,  tidak  ya? Aku punya sejenis bayangan—semacam gam- baran di kepalaku—tentang anak laki-laki dan perempuan seperti kita—tinggal di  suatu tempat yang  agak   berbeda—dan  melakukan  berbagai hal.  Mungkin itu  hanya  mimpi."
"Aku juga punya mimpi yang sama, seperti- nya,"   kata   Digory.    "Tentang   anak   laki-laki dan perempuan, tinggal bersebelahan—dan se- suatu tentang merangkak di antara kerangka rumah. Aku ingat anak perempuan itu mukanya kotor."
"Sepertinya ingatanmu terbalik?  Dalam  mim- piku   justru   si   anak   laki-laki   yang  wajahnya kotor."
"Aku  tidak  bisa  mengingat wajah  anak  lelaki itu,"  kata Digory kemudian menambahkan, "Wah!  Apa itu?"
"Wah!  Itu  kan  hamster,"  kata  si  gadis  kecil. Dan  memang  benar—di  sana  ada  hamster  gen- dut, mengendus-endus rumput. Tapi di sekeliling perut  hamster  itu  ada  tali  dan,  terikat  di  tali itu,  cincin kuning yang  bersinar terang.
"Lihat!   Lihat!"   teriak  Digory.   "Cincin  itu!


Dan   lihat!   Kau   juga   me- ngenakan cincin  seperti
itu   di   jarimu.   Aku juga."
Si   gadis   kecil   itu
kini  duduk tegak,  akhirnya  benar-benar tertarik. Mereka menatap satu sama lain lekat-lekat, berusaha   mengingat.   Kemudian   di   saat  yang tepat   bersamaan,   si    gadis   berteriak,    "M r Ketterley," dan si anak lelaki berseru, "Paman Andrew,"   lalu   mereka   pun   tahu   siapa   diri mereka dan mulai mengingat keseluruhan cerita. Setelah banyak berbincang-bincang selama be- berapa menit, akhirnya mereka mengingat semuanya.  Digory menjelaskan betapa  kejamnya tindakan  Paman  Andrew.
"Apa   yang   harus   kita   lakukan   sekarang?" tanya   Polly.   "Membawa   pulang   hamster   ini dan  kembali ke  dunia  kita?"
"Tidak   perlu   terburu-buru,"   kata   Digory, sambil menguap lebar sekali.
"Kurasa  harus  begitu,"  kata  Polly.  "Tempat ini  terlalu  sunyi.  Begitu—begitu  seperti  mimpi. Kau sendiri nyaris tertidur.  Sekali kita menyerah terhadap   pengaruhnya   kita   hanya   akan   ber- baring dan dalam keadaan setengah tertidur selama-lamanya."

"Tapi  nyaman  sekali  berada  di  sini,"   kata
Digory.
"Ya, memang benar," kata Polly. "Tapi kita harus kembali."  Dia  berdiri  dan mulai  berjalan menghampiri si hamster dengan hati-hati. Tapi kemudian  dia  berubah  pikiran.
"Sebaiknya  kita  biarkan  saja  si  hamster  di sini,"  kata  Polly.  "Dia  tampak  begitu  bahagia di tempat ini, dan pamanmu hanya akan me- lakukan   sesuatu   yang   buruk   padanya   kalau kita  membawanya  pulang."
"Aku  yakin  dia  akan  melakukan  itu,"   ko- mentar Digory. "Lihat saja caranya memper- lakukan  kita.   Omong-omong,  bagaimana  cara kita  pulang?"
"Kurasa  sih,  lewat mata  air itu lagi."
Mereka   berjalan   mendekati   mata   air   dan berdiri berdampingan di tepinya, menunduk menatap permukaan air yang datar. Pada per- mukaan itu terlihat bayangan cabang-cabang pohon yang hijau penuh dedaunan sehingga tampak  sangat  dalam.
"Kita  tidak  punya  perlengkapan  berenang," kata  Polly.
"Kita tidak butuh semua itu, bodoh," kata Digory.   "Kita   akan   menyelam   ke   dalamnya dengan  pakaian  lengkap.  Masa  kau  tidak  ingat airnya  sama  sekali tidak membasahi kita  ketika kita naik  ke  sini?"
"Kau  bisa  berenang?" "Sedikit.  Kau  bagaimana?" "Yah—tidak  terlalu  bisa."
"Kurasa   kita   tidak   akan   perlu   berenang,"
kata  Digory.   "Kita  kan  mau  pergi  ke  bawah-
nya, ya  kan?"
Tidak  satu  pun  di  antara  mereka  menyukai ide  melompat  ke  mata  air  itu,  tapi  tidak  ada yang mengatakannya.  Mereka  bergandengan ta- ngan dan berkata "Satu—Dua—Tiga—Lompat" lalu  melompat.  Mereka  merasakan cipratan  be- sar  dan  tentu  saja  mereka  memejamkan  mata. Tapi ketika membuka mata lagi, mereka men- dapati  diri  mereka masih  berdiri,  bergandengan tangan  di  hutan  hijau,  dan  nyaris  hanya  teren- dam  air  hingga  ke  mata   kaki.   Mata   air  itu ternyata beberapa sentimeter dalamnya. Mereka berjalan  kembali ke  daratan kering.
"Apa sebenarnya yang salah?" tanya Polly dengan suara ketakutan, tapi tidaklah setakut seperti   yang  kaubayangkan,  karena   sangatlah sulit  merasa  sangat  takut  saat  berada  di  hutan itu.  Tempat itu  terlalu  damai.
"Oh !  Aku  tahu,"  kata  Digory.  "Tentu  saja, ini tidak akan berhasil.  Kita  masih mengenakan cincin  kuning kita.  Cincin-cincin ini  kan  untuk perjalanan  pergi.  Cincin-cincin yang  hijau  akan membawa kita pulang. Kita harus mengganti cincin  kita.  Kau  punya  saku?  Bagus.  Simpan cincin kuningmu di saku kiri. Aku punya dua cincin  hijau.  Ini  satu  untukmu."
Mereka mengenakan cincin hijau dan kembali ke mata air. Tapi sebelum mereka mencoba melompat   lagi,   Digory   mengeluarkan   "O-o- oh!"  yang panjang  sekali.
"Ada  apa?"  tanya Polly.
"Aku baru saja mendapat ide bagus," kata Digory.  "Untuk  apakah  mata  air-mata  air lain- nya?"
"Apa  maksudmu?"
"Begini,  kalau  kita   bisa   kembali  ke   dunia kita   sendiri   dengan   melompat   ke   mata   air yang  ini,  bukankah  berarti  kita  bisa  pergi  ke tempat   lain   dengan   melompat   ke   mata   air lain?  Mungkin  saja  ada  dunia  di  bawah  setiap mata  air."
"Tapi bukankah kita sudah berada di Dunia Lain,  Tempat  Lain,  atau  apalah  namanya  itu yang   dibicarakan   Paman   Andrew?   Bukankah kau  bilang—"
"Ah ,    lupaka n    Pama n    Andrew,"    poton g
Digory.   "Kurasa  dia   bahkan  tidak  tahu  apa-apa tentang itu. Dia tidak pernah punya ke- beranian   untuk   datang   ke   sini   sendiri.   Dia hanya   bicara   tentang  satu   Dunia   Lain.   Tapi siapa  tahu  ada  lusinan?"
"Maksudmu ,  hutan  ini  mungkin hanya  salah satunya?"
"Tidak,   menurutku   hutan   ini   sama   sekali bukan  dunia  lain.  Menurutku tempat ini hanya- lah  semacam tempat  di  antaranya."
Polly  tampak  bingung.
"Tidakkah kau  lihat?"  tanya Digory.  "Tidak, dengar  dulu.  Pikirkan  terowongan  kita  di  ba- wah  papan-papan  di  rumah.  Tempat  itu  kan bukan  ruangan  di  salah  satu  rumah.  Bisa  di- bilang,   terowongan  itu   bahkan  bukan   benar- benar  bagian  dari rumah-rumah. Tapi sekalinya kau  berada  di  terowongan,  kau  bisa  berjalan di  dalamnya  dan  datang  ke  rumah  mana  pun di  deretan rumah kita.  Mungkin  saja  hutan  ini juga  sama,  kan?—tempat  yang  bukanlah  salah satu  dunia,  tapi  sekali  kau  menemukan  tempat ini kau  bisa  masuk ke  dunia mana pun. "
"Yah,  kalaupun  kau  bisa—"  Polly  memulai, tapi  Digory  melanjutkan  seolah  tidak  mende- ngar  kata-katanya.
"Dan tentu saja itu menjelaskan segalanya," katanya.   "Itulah   sebabnya   tempat   ini   begitu sepi dan kita selalu merasa mengantuk. Tidak pernah  ada  kejadian  apa  pun  di  sini.  Seperti di   rumah.   Di   dalam  rumah-rumahlah  orang- orang berbicara, atau melakukan hal-hal, juga tempat  mereka  makan.  Tidak  ada  yang  terjadi di  tempat-tempat  perantara:  di  belakang  din- ding, di  atas langit-langit, atau di  bawah lantai, juga   di   dalam   terowongan  kita.   Tapi   ketika kau  keluar  dari  terowongan,  kau  akan  men- dapati   dirimu   berada   di   rumah   mana   pun. Kurasa  kita   bisa  keluar  dari  tempat  ini   dan menuju tempat mana pun! Kita tidak perlu melompat ke  dalam mata air yang sama dengan yang kita lewati.  Atau  belum saatnya."

"Huta n  di  Antara  Dunia-Dunia,"  kata  Polly menerawang.  "Kedengarannya  bagus  juga."
"Ayo,"   kata   Digory.    "Kolam   mana   yang akan  kita  coba?"
"Tunggu dulu," kata Polly, "Aku tidak akan mencoba   mata   air   baru   sebelum  memastikan kita   memang   bisa   pulang   melalui   mata   air yang   pertama.   Kita   bahkan   tidak   yakin   itu cara  yang  benar."
"Benar," kata Digory sinis. "Kita akan di- rangkap  Paman  Andrew  dan  harus  menyerah- kan   cincin-cincin   kita   sebelum   sempat   ber- senang-senang. Tidak,  terima  kasih."

"Tidak bisakah kita  sampai di  setengah jalan ke bawah mata air kita?" tanya Polly. "Hanya untuk   melihat   cara   ini   benar-benar   manjur. Lalu  begitu  kita  tahu  itu   berhasil,  kita  ganti cincin dan kembali naik sebelum benar-benar sampai  di  ruang  kerja  Mr  Ketterly."
"Bisakah kita  pergi  separo  jalan  ke  bawah?" "Yah,  cukup  lama  waktu  yang kita  perlukan untuk  naik,  kurasa  bakal  memakan  waktu  se-
dikit  lama  untuk  kembali."

Digory   agak   sulit   menyetujui   rencana   ini, tapi  akhirnya  dia  terpaksa  setuju  karena  Polly sama   sekali   menolak   melakukan   penjelajahan ke   dunia   baru  apa  pun   sebelum  memastikan dia  bisa kembali ke dunia  asalnya. Dia  kurang- lebih sama beraninya dengan Digory dalam menghadapi   beberapa   bahaya   (tawon,   misal- nya),  tapi  Polly  tidaklah  tertarik  menemukan hal-hal yang  belum pernah didengar siapa  pun. Sedangkan Digory tipe orang yang ingin menge- tahui   segalanya,   dan   ketika   tumbuh   dewasa dia  menjadi  Profesor  Kirke  yang  terkenal  yang akan  muncul  di  buku-buku  lain.
Setelah cukup lama berdebat, mereka sepen- dapat untuk mengenakan cincin hijau mereka ("Hijau  untuk  keamanan,"  kata  Digory,   "jadi kau   tidak   bisa   tidak   mengingat  cincin   yang

mana  untuk  apa") ,  lalu  mereka  bergandengan tangan  dan  melompat.  Tapi  segera  ketika  me• reka   tampak   akan   kembali   ke   ruang   kerja Paman   Andrew,   atau   bahkan   dunia   mereka sendiri, Polly bertugas  untuk berteriak,  "Ganti " dan mereka akan membuka cincin hijau lalu memakai  cincin  kuning  lagi.  Digory  ingin  jadi yang   bertugas   berteriak,   "Ganti,"   tapi   Polly tidak  juga  mau  setuju.

Mereka mengenakan cincin hijau, saling menggamit tangan, dan sekali lagi berteriak "Satu—Dua—Tiga—Lompat". Kali  ini  cara  itu manjur.    Sangatlah    sulit   menceritakan   pada kalian   bagaimana   rasanya,   karena   segalanya terjadi  begitu cepat.  Awalnya  ada cahaya-cahaya terang  yang  bergerak  di  langit  hitam.  Digory selalu menganggap cahaya-cahaya itu bintang- bintang dan bersumpah melihat Planet Jupiter cukup    dekat—cuku p    dekat    untuk    melihat bulannya. Tapi hampir sekaligus terlihat oleh mereka  barisan demi  barisan atap dan cerobong asap di atas, mereka juga bisa melihat St Paul sehingga tahu mereka sedang melihat peman- dangan London. Tapi kau  bisa  melihat menem- bus  dinding-dinding semua rumah.  Lalu mereka bisa melihat Paman Andrew, sangat samar dan berbayang-bayang,  tapi  semakin  lama  semakin kelihatan jelas dan nyata,  seolah dia  kian men- dekati   fokus.   Tapi   sebelum   Paman   Andrew menjadi benar-benar nyata, Polly berteriak "Ganti" ,  dan  mereka  langsung  mengganti  cin- cin, dunia kita pun mengabur seperti mimpi, kemudian  cahaya   hijau   di   atas   menjadi  kian terang dan terang, hingga kepala mereka keluar dari   mata   air  dan  mereka   berlari  ke  tepian. Kini  hutan  mengelilingi  mereka  lagi  hingga  ke atas, masih sehijau dan seterang dulu. Seluruh proses   itu   hanya   mengambil   waktu   kurang dari  satu  menit.
"Nah! "  kata Digory.  "Sudah bisa, kan?  Seka- rang mari kita  bertualang.  Mata  air yang mana pun  boleh.  Ayolah.  Ayo  kita  coba  yang  satu itu."
"Stop!"  kata Polly.  "Tidakkah sebaiknya kita tandai  mata  air yang  ini  dulu?"
Mereka  bertatapan  dan  wajah mereka  berdua memucat  saat  mereka  menyadari  hal  mengeri- kan yang baru saja akan Digory lakukan. Ada begitu  banyak  mata  air  di  di  hutan  ini,  dan semua mata air tampak serupa, begitu juga pepohonannya. Kalau sekali saja mereka me- ninggalkan   mata   air   yang   merupakan   jalan menuju dunia mereka sendiri tanpa membuat semacam  tanda,  kemungkinannya  seratus  banding  satu   bagi  mereka  untuk  menemukannya lagi.
Tangan  Digory gemetaran  saat  dia  membuka pisau  lipatnya  dan  memotong  sebongkah  pan- jang  rumput  di  tepian  mata  air.  Tanah  hutan itu (yang wangi sekali) berwarna cokelat ke- merahan gembur dan tampak kontras di antara hijau  rerumputan.  "Untung salah satu  di  antara kita  berakal sehat,"  kata  Polly.
"Yah,  kau  kan  tidak  perlu  menyombongkan diri  hanya gara-gara  masalah ini,"  kata  Digory. "Ayolah,  aku  ingin  melihat  ada  apa  di  balik mata air-mata air yang lain." Polly membalas ucapan   Digory   dengan   cukup   pedas,   Digory pun   mengucapkan   sesuatu   yang   lebih   ketus lagi sebagai balasannya. Pertengkaran itu ber- langsung selama beberapa menit, tapi akan membosankan  bila   ditulis   semuanya.   Marilah kita  langsung menuju  saat ketika mereka  berdiri dengan  jantung  berdebar-debar dan  wajah  agak ketakutan  di  pinggir  mata  air  tak  dikenal  de• ngan cincin-cincin kuning mereka. Keduanya bergandengan dan sekali lagi berkata "Satu— Dua—Tiga—Lompat!"
Byuurr!   Sekali  lagi  cara  ini  tidak  berhasil. Mata air ini ternyata juga hanyalah sedalam kubangan  air.  Bukannya  mencapai  dunia  lain, mereka  hanya  mendapati  kaki  mereka   basah dan  mengotori  tungkai  kaki  mereka  untuk  ke- dua  kalinya  pagi  itu  (kalau  memang  saat  itu pagi:  waktu  tampak  selalu  sama  di  Hutan  di Antara  Dunia-Dunia).
"Sial!" seru Digory. "Apa lagi yang salah sekarang?  Kita sudah mengenakan cincin kuning kita kok. Dia bilang kuning untuk perjalanan pergi."
Nah ,    sekarang   diketahui   ternyata   Paman Andrew,  yang  tidak  tahu  apa-apa  tentang  Hu• tan   di  Antara   Dunia-Dunia,  punya  perkiraan yang salah tentang kegunaan cincin-cincin itu. Cincin   yang   kuning   bukanlah  cincin   "pergi" dan   cincin   yang   hijau   bukanlah   cincin   "pu- lang", setidaknya bukan seperti yang dipikir- kannya.   Bahan-bahan   yang   membuat   kedua cincin itu berasal dari hutan itu. Bahan-bahan dalam cincin kuning memiliki kekuatan untuk menarikmu ke hutan, bahan-bahan yang ingin kembali ke tempatnya semula, tempat di antara. Tapi  bahan  dalam  cincin  hijau  adalah  bahan yang  berusaha  keluar  dari  tempatnya  semula: jadi   cincin   hijau   akan   membawamu   keluar dari  hutan  ke  sebuah  dunia.  Paman  Andrew, untuk kauketahui, sedang bereksperimen dengan benda-benda  yang  sebenarnya  tidak  terlalu  dia mengerti, sebagian  besar penyihir memang begitu. Tentu saja Digory juga tidak terlalu menyadari kenyataan ini,  setidaknya tidak  hing- ga nanti. Tapi ketika mereka telah membicara- kannya,  mereka  memutuskan  mencoba   cincin hijau  mereka  ke  mata  air  baru  hanya  untuk melihat  apa  yang  akan  terjadi.
"Aku  mau  kalau  kau  juga  mau,"  kata  Polly. Tapi sebenarnya dia mengatakan ini karena di hatinya   yang   paling   dalam,   dia   kini   merasa yakin  kedua  cincin  itu  tidak  akan  berfungsi  di mata air baru, jadi tidak ada yang perlu lebih ditakutinya selain cipratan air lagi. Aku tidak terlalu yakin Digory punya perasaan yang  sama. Bagaimanapun, ketika  mereka  berdua  telah me- makai   cincin   hijau,   kembali   ke   tepian   mata air,  dan  bergandengan,  mereka  kini  jauh  lebih ceria   dan   tidak   muram   daripada   pada   kali pertama.
"Satu—Dua—Tiga—Lompat!" kata Digory. Dan  mereka  pun  melompat.

-----

 

©Copyright 2011 Narnia of Indonesia | TNB