Biografi & Fakta C.S. Lewis



Pengenalan

Clive Staples Lewis (29 November, 1898 - 22 November, 1963), lebih dikenal sebagai CS Lewis, adalah seorang penulis dan sarjana Irlandia, dilahirkan dalam sebuah keluarga Protestan di Belfast dan meninggal pada hari yang sama dengan pembunuhan John F. Kennedy.
Lewis dikenal karena karyanya pada sastra abad pertengahan dan untuk apologetika Kristennya dan fiksi, terutama The Chronicles of Narnia.

Setelah kematian ibunya pada tahun 1908, Lewis dikirim ke berbagai sekolah di Inggris. Pada sekitar 15 tahun, ia meninggalkan masa kecilnya dan meninggalkan Kristen lalu menjadi seorang ateis (percaya satu Allah menciptakan manusia dan aturan) pada usia 31. "Dalam Jangka Trinity tahun 1929 saya menyerah, dan mengakui bahwa Allah adalah Allah, dan berlutut dan berdoa ... "Didorong oleh teman TS Eliot dan JRR Tolkien, pada tahun 1931 ia kembali ke Kristen.

Karier

Lewis mendapatkan beasiswa di Perguruan Tinggi, Oxford pada tahun 1916 ,sementara Perang Dunia sedang berkecamuk. Karena dia Irlandia, Lewis dibebaskan dari wajib militer tapi dia terdaftar pula di Angkatan Darat Inggris pada tahun 1917. Setelah keluar di tahun 1918, Lewis kembali ke studinya, menerima pengalaman pertama di Moderasi (Sastra Yunani dan Latin), Hebat (Filsafat dan Sejarah Kuno) dan bahasa Inggris.

Lewis diajarkan oleh temannya dari Magdalena College, Oxford selama hampir 30 tahun, 1925-1954, dan kemudian adalah Profesor pertama dari Abad Pertengahan dan Renaisans Sastra di Universitas Cambridge dan bersama temannya dari Magdalena College, Cambridge. Menggunakan posisi ini, Lewis menulis banyak karya ilmiah tentang Abad Pertengahan, terutama penggunaan alegori.

Selain karya ilmiah, Lewis menulis sejumlah novel populer, sebagian besar yang terkandung adalah tema-tema alegori Kristen seperti dosa, Kejatuhan, dan penebusan. Novel pertamanya setelah menjadi seorang Kristen adalah The Pilgrim's Regress, yang  mengambil John Bunyan dalam The Pilgrim Progress, yang digambarkan pengalamannya sendiri 2 dengan agama Kristen. "Space Trilogy" novel Lewis yang ditangani dengan kecenderungan manusiawi yang terjadi dalam novel fiksi ilmiah dari waktu kewaktu. Dia menulis novel pendek yang beberapa berurusan dengan tema surga dan neraka, termasuk The Great Divorce dan The Screwtape Letters.

Yang paling populer dari semua karyanya adalah The Chronicles of Narnia, serangkaian tujuh novel fantasi untuk anak-anak. Buku-buku itu memiliki tema Kristen dan menggambarkan petualangan sekelompok anak-anak yang mengunjungi suatu negeri ajaib bernama Narnia. "Sang Singa, sang Penyihir, dan Lemari' adalah diterbitkan pertama dan buku yang paling populer dari seri. Lewis dikatakan telah menyatakan bahwa ia menulis novel ketika ia bertanya-tanya akan menjadi seperti apakah jika Yesus Kristus menjelma di planet lain atau dunia untuk menyimpan jiwa-jiwa mereka jiwa.

Lewis juga menulis banyak buku tentang agama Kristen, yang paling terkenal yang itu Mere Christianity, dianggap sebagai karya klasik di bidang apologetika Kristen. Karena ia mendekati keyakinan agama sebagai skeptis dan dikonversi oleh bukti, buku-buku tentang kekristenan memeriksa kesulitan umum dalam menerima Kekristenan tersendiri seperti "Bagaimana mungkin Tuhan yang baik memungkinkan penyakit ada di dunia?" Dia menulis bahwa kebanyakan orang bersedia menerima Yesus sebagai guru moral yang agung, tetapi Injil mencatat bahwa Yesus membuat banyak klaim dengan keilahian. Dengan asumsi bahwa Injil
akurat, Lewis mengatakan ada maka tiga pilihan: Yesus mengatakan kebohongan dan tahu itu, jadi dia adalah pendusta, Yesus mengatakan kebohongan tetapi percaya bahwa ia mengatakan kepada kebenaran, dan dia sudah gila, atau Yesus mengatakan yang sebenarnya, dan ia ilahi. Oleh karena itu, orang tidak bisa membantah bahwa Yesus hanyalah seorang guru moral yang besar karena-Nya ajaran moral menjadi batal berdasarkan baik dataran nya atau kegilaannya. Jika ia adalah ilahi, namun ia harus jelas lebih dari seorang guru moral yang agung. 

Lewis juga menulis otobiografi disebut Surprised by Joy yang menggambarkan konversi. Esai-esai dan pidato publik pada keyakinan Kristen, banyak di antaranya dikumpulkan pada Tuhan di Dock dan The Weight of Glory dan Alamat lain tetap populer saat ini untuk wawasan mereka ke dalam iman.

---
Jika ingin mengetahui lebih lengkap, silahkan klik http://en.wikipedia.org/wiki/C._S._Lewis

Fakta


Meriahnya sambutan terhadap film "Chronicles of Narnia; the Lion, the Witch and the Wardrobe" telah semakin membuat nama C.S. Lewis (1898-1963) sebagai penulis kisah tersebut semakin banyak dibicarakan. Di kalangan penulis Kristen, C.S. Lewis barangkali bisa dibilang sebagai penulis Kristen paling terkenal di zaman modern ini, namun barangkali tak banyak orang yang mengetahui beberapa sisi unik dari hidup seorang C.S. Lewis. Berikut beberapa di antaranya.


1. Jago menulis berbagai genre

Clive Staples (juga biasa dipanggil Jack) Lewis barangkali adalah pengarang yang paling tenar, karyanya paling banyak dibaca dan paling sering disebut di dunia literatur Kristen modern ini. Sepanjang tahun 1931-1962 ia telah menuliskan 34 buku, belum termasuk yang diterbitkan setelah kematiannya. Bakat menulisnya juga bisa disimak dalam berbagai genre tulisan seperti puisi (Dymer), novel mitos (The Pilgrim"s Regress), teologi populer (Mere Christianity), filsafat (The Abolition of Man), fiksi luar angkasa (The Ransom Trilogy), dongeng anak-anak (The Chronicles of Narnia), legenda yang diceritakan kembali (Till We Have Faces), kritik sastra (The Discarded Image), surat (Letters to Malcolm) dan otobiografi (Surprised by Joy). Walau menulis dalam bermacam genre, pesan dan pokok pikiran Lewis selalu konsisten ada di setiap tulisannnya.

2. Komunitas

Sepanjang pertengahan tahun 1930-an sampai akhir 1940-an, setiap hari Selasa dan Kamis, Lewis selalu mengadakan pertemuan dengan sesama rekan penulisnya untuk minum bir dan mengobrol sambil mengkritisi tulisan masing-masing. Pertemuan yang dinamai "The Inklinks" itu melibatkan penulis-penulis seperti J.R.R. Tolkien, Charles Williams, dan saudara Lewis sendiri, Warnie. Dalam diarinya Warnie pernah menulis "Kami bukan orang-orang yang selalu saling memuji satu sama lain. Membacakan karya di depan kelompok The Inklinks membutuhkan keberanian tersendiri." Karya-karya yang turut ditempa oleh kritik dari para sahabat di Inklinks antara lain adalah The Screwtape Letters, Narnia, dan The Hobbit. "Namun selama keberadaan Lewis," seperti yang dikatakan Tolkien pada Clyde Kilby pada tahun 1965, "Saya rasa saya belum sempat menyelesaikan atau memperlihatkan The Lord of the Rings kepadanya."

3. Pikiran untuk hal-hal yang lebih tinggi

Owen Barfield, salah satu teman dekat Lewis, dimana ia mempersembahkan buku "The Allegory of Love" kepadanya adalah juga pengacaranya. Suatu saat Lewis menyuruh Barfield untuk mendirikan sebuah badan amal ("The Agape Fund") yang didanai oleh hasil penjualan bukunya. Diperkirakan 90 persen dari pendapatan Lewis disalurkan kepada badan amal itu. Kemurahan hatinya ini bertentangan dengan pendapat George Sayer yang mengatakan bahwa Lewis mewarisi sifat ayahnya yang "takut bangkrut", dan bahwa ayah dan anak itu "paling enggan menginvestasikan uangnya." Tukang kebun Lewis yaitu Fred Paxford (yang menjadi inspirasi karakter Puddlegum dalam buku The Silver Chair), mendapati bahwa dalam wasiatnya, Lewis hanya mewariskan uang senilai 100 pounds. "Hmm, memang sepertinya jumlah itu tak akan mampu membawa saya kemana-mana ya?" komentar Paxford. "Tuan Jack", lanjutnya "Dia memang tak pernah banyak memikirkan tentang uang. Pikirannya selalu untuk hal-hal yang lebih tinggi lagi."

4. Jarang bicara blak-blakan

Lewis menulis buku "Surprised by Joy" (1955) untuk menerangkan sebagian dari pengaruh masa kecilnya terhadap tulisan dan pertobatannya. Dokter pribadi sekaligus rekannya dalam komunitas Inklink, Robert E. Havard mengatakan bahwa buku itu seharusnya diberi judul "Yang tak terucapkan dari Jack" karena sebelumnya Lewis sangat jarang menceritakan tentang kisah hidupnya.

5. Panggil saya si "Pantat babi kecil"

Lewis sering memberi nama julukan. Dia dan saudaranya Warnie selalu memanggil satu sama lain "Smallpigiebotham atau SPB" (si pantat babi kecil) dan "Archpigiebotham atau APB" (si pantat babi lancip) karena mengingat pengasuh mereka yang sering memukul "pantat babi" mereka waktu kecil. Bahkan setelah kematian Lewis, Warnie masih memanggil dia dengan sebutan "SPB-ku terkasih." Mereka juga menjuluki Albert, ayah mereka dengan sebutan "Pudaitabird" karena aksen Irlandianya ketika menyebut kentang (potato). Tolkien disebut "Tollers," Ny. Moore disebut "Minto," dan dokter Lewis, Robert E. Havard biasa ia panggil "Humprey" namun kadang juga "The Useless Quack atau U.Q (pembual tak berguna)." Lewis juga menjuluki rekannya A.C. Harwood "The Lord of the Walks (Dewa Pejalan)" karena gaya berjalannya.

6. Novelis yang berkembang

Sebagai anak yang tumbuh di Belfast, Irlandia, ketika hari hujan Lewis dan Warnie menghabiskan banyak waktunya di dalam rumah untuk mengarang-ngarang cerita. "Jacks" atau "Jack", sebagaimana ia menyebut dirinya sendiri sejak usia 3 tahun, menggambar untuk membuat ilustrasi cerita tentang hewan-hewan yang bisa bicara, yang idenya banyak diambil dari cerita-cerita karya Beatrix Potter, Kenneth Graham dan kisah-kisah kepahlawanan para ksatria. Cerita- ceritanya kelak menjadi bagian dari imajinasi yang lebih luas dari saudaranya tentang dunia "Boxen." Dialog-dialog antar karakter cerita mereka biasanya memuat pembicaraan orang dewasa yang sering mereka dengar -- biasanya tentang politik. Lewis pernah menulis mengenai perbandingan kisah-kisah masa kanak-kanaknya tersebut dengan cerita Narnia: "Kisah "Animal Land" tidak ada hubungannya dengan Narnia selain kesamaan adanya hewan yang bertingkah seperti manusia. Kisah Animal Land, dengan segala kelebihan kekurangannya, tidak banyak memberikan rasa ketakjuban." Walau demikian, dia juga berkomentar bahwa "Dengan menciptakan dan mengarang Animal Land, saya sedang melatih diri untuk menjadi novelis."

7. Menggambar Narnia

Lewis sebenarnya ingin menggambar sendiri ilustrasi dalam buku Narnia, namun ia kemudian memutuskan bahwa sepertinya ia tak punya cukup kemampuan dan waktu untuk melakukannya. Karenanya, ia memilih seorang seniman muda, Pauline Baynes, yang juga telah menggambar ilustrasi untuk kisah "Farmer Giles of Ham" karangan J.R.R. Tolkien pada tahun 1948. Lewis tak pernah benar-benar puas dengan cara Baynes menggambar anak-anak dan binatang, walaupun ia tetap memuji bagian yang memang layak dipuji. "Dia tak bisa menggambar singa," katanya pada George Sayer, "namun dia sangatlah baik, cantik dan sensitif sehingga saya tak tega mengatakan hal ini kepadanya." Ketika "The Last Battle" memenangkan penghargaan Carnegie untuk kategori buku anak-anak terbaik di tahun 1956, Baynes menulis surat pada Lewis untuk menyelamatinya. Dan Lewis menjawab, "Bukankah ini penghargaan untuk kita berdua?"

8. Lewis dan gedung bioskop

Pada tahun 1933, Lewis menulis surat untuk temannya Arthur Greeves: "Kau akan terkejut kalau mendengar bahwa aku mau pergi ke bioskop lagi! Jangan takut, ini tak akan menjadi satu kebiasaan." Di luar keberatannya dengan bioskop, ia memang kadang-kadang masih pergi ke sana. Film King Kong menimbulkan beragam reaksi: "Saya rasa sebagian dari film itu (terutama ketika para penduduk asli memberi sambutan setelah ia merusak jembatan) sangatlah menakjubkan," komentarnya pada kawannya yang menulis cerita itu, "namun bagian ketika di New York itu tidak saya sukai."

9. Apologetis dan evangelis

Pada tahun 1955, C.S. Lewis diundang untuk bertemu Billy Graham, yang memimpin sebuah misi yang disponsori oleh Cambridge Inter- Collegiate Christian Union. Graham mengenang pertemuan itu dengan mengatakan: "Saya merasa bahwa dia bukan hanya sosok yang pintar dan ceria namun juga lembut dan penuh syukur; dia terlihat sangat tertarik dengan pertemuan (misi) kami. "Anda tahu," katanya saat kami akan berpisah, "Anda mungkin banyak dikritik, namun saya belum pernah melihat ada di antara kritikus itu yang benar-benar mengenal Anda secara pribadi"."

10. Penggemar bertemu penggemar

Ketika Lewis mengirimkan naskah "The Allegory of Love" ke penerbit Oxford"s Clarendon Press, naskah itu diberikan kepada Charles Williams untuk dianalisa. Waktu itu Lewis dan Williams masih belum mengenal satu sama lain, namun Lewis baru saja membaca novel Williams "The Place of the Lion." Williams sedang menuliskan surat pada Lewis ketika ia menerima surat dari Lewis yang memuji novelnya. Surat Williams pada Lewis sendiri mengatakan bahwa Allegory of Love "praktis adalah satu-satunya karya sejak masa Dante yang mampu menunjukkan pemahaman yang menyeluruh tentang makna tak biasa dari cinta dan agama."

11. Melintasi perbedaan

Banyak orang yang membaca buku pertama Lewis setelah bertobat "The Pilgrim"s Regress", mengira bahwa ia adalah seorang Katolik, apalagi kenyataannya edisi kedua buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbit Katolik. Lewis juga menyatakan pada tahun 1940 bahwa "2 orang (Dom Bede Griffiths dan George Sayer) karena pengaruh saya juga bertobat menjadi Katolik!" Popularitas dan pengaruh yang ia miliki di antara orang Katolik juga tetap muncul hingga kini. Paus Yohanes Paulus II pernah mengatakan bahwa "The Four Loves" adalah salah satu buku favoritnya.

12. Penyair dari Oxford

Sampai usia 30-an, Lewis berkeinginan menjadi penyair. Berlawanan dengan munculnya arus penyair-penyair modernis seperti T.S. Elliot, Lewis memilih menulis puisi-puisinya dengan gaya campuran. Tulisannya dalam "Till We Have Faces" yang menceritakan ulang legenda Cupid dan Psyche dimulai dengan gaya penulisan puisi sebelum lama kelamaan berubah membawa kesan sebagai novel.

13. Bukan sebuah perumpamaan namun "sebuah misal"

Tolkien tidak begitu menyukai sebagian kisah Narnia karena ia merasa bahwa makna kekristenannya terlalu jelas, namun Lewis bersikeras bahwa ia tidak sedang menulis perumpamaan dalam arti kata yang kaku. Dalam suratnya, Lewis menjelaskan bahwa Aslan tidak dimaksudkan untuk "mewakili" karakter Yesus dalam arti sederhana: "Mari kita bayangkan seandainya ada dunia seperti Narnia, bahwa Anak Allah, yang menjadi manusia di dunia, kemudian menjadi singa di sana, bayangkan apa yang akan terjadi kemudian."


-----

Bahan diterjemahkan oleh Ary dari sumber:
Penulis : Robert Trexler dan Jennifer Trafton
 

©Copyright 2011 Narnia of Indonesia | TNB